Tirta Yatra ke Pura di Jawa, Blambangan, Alas Purwo, Semeru dan Gunung Bromo

Advertisement
Advertisement
Pada tanggal 24 Februari 2013 kami Berangkat jam 5 dari Dalung, menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam untuk mencapai penyeberangan Gilimanuk yaitu sekitar jam 8, sudah naik kapal pun masih harus menunggu beberapa menit untuk kapal jalan karena masih menunggu penumpang yang lainnya, selama menyeberang saya sempat kan untuk menulis sambil menikmati musiknya Benny Panjaitan yang di putar selama penyeberangan, dari pada buang waktu percuma mendingan mengetik via BB. Ini adalah untuk ke tiga kalinya saya naik ferry terakhir tahun 2004 untuk studi tour waktu kuliah, dan yang pertama saya naik ferry tahun 2003 saat kakak saya wisuda di Surabaya yaitu di Institut Teknologi Sepuluh November, sudah lama sekali.

Sebenarnya sudah tidak sabar untuk sampai di ketapang, karena saya paling anti naik ferry karena tidak terbiasa dengan ombak, takutnya saya mabuk, makanya tidak berani melihat lautan lepas, tetap menikmati musik yang ada di ruang penumpang, sambil sesekali mendengar suara mangkok dagang bakso, sedangkan ketiga teman lainnya asik ngobrol ditepian sambil menikmati pemandangan laut dengan ferry yang lalu lalang. Kebetulan ombak nya kecil jadi penyebarangan naik ferry terasa nyaman tanpa ada guncangan yang besar ketika berada di atas ferry, sambil terus mengetik saya berharap bisa melupakan kalau saat ini saya sedang berada di atas ferry, kebetulan materi yang mau saya ketik sudah habis maka saya pun bergabung dengan teman-teman untuk ngobrol dan pastinya berfoto juga.

Pura Agung Blambangan. Foto Pribadi
Setelah menyeberang hampir 45 menit akhirnya sampai di Ketapang, tepatnya pukul 09.23 wita keluar dari ferry, perjalanan dengan mobil pun dilanjutkan, baru keluar dari pelabuhan ketapang disambut jalan yang rusak berlubang dengan air menggenang tapi untung tidak lama jalannya sudah normal kembali, sekarang melanjutkan perjalanan menuju Pura Blambangan kira-kira ditempuh sekitar 2 jam perjalanan. Setelah menempuh perjalanan dan bertanya ke warga supaya tidak tersesat maklum tidak bawa GPS, akhirnya sampai juga di Pura Agung Blambangan, ternyata kami tidak berempat saja, sebelum kami sampai sudah ada juga warga Bali tepatnya Desa Jagaraga yang sudah sampai duluan, sementara persembahyangan berlangsung, sehabis itu Nunas Tirta dan Bija, setelah selesai untuk mengabadikan pastinya tidak lupa untuk banyak-banyak berfoto.

Pura Agung Giri Salaka Alas Purwo. Foto Pribadi
Sekarang perjalanan dilanjutkan menuju Alas Purwo sepanjang perjalanan di kiri kanan jalan penuh dengan hamparan sawah yang hijau dan sangat luas, dijalan pun kami bertanya lagi supaya tidak tersesat, setelah bertanya ternyata jarak tempuh masih sekitar 13 KM menuju Alas Purwo. Setelah itu kami memasuki kawasan Taman Nasional Alas Purwo di kiri kanan jalan penuh pohon jati, karena masuk hutan jadi tidak ada jaringan telekomunikasi atau tidak ada sinyal, setelah masuk lebih jauh, ternyata jalannya rusak, jadilah kita naik mobil seperti Offroad banyak guncangannya, tetapi kata Pemangku di sana tahun 2013 ini jalan tersebut akan di perbaiki. Sebelum benar-benar masuk di kawasan Taman Nasional Alas Purwo, kami berhenti dulu di pos jaga untuk di data oleh petugas, untuk keperluan apa masuk ke kawasan Taman Nasional, kebetulan letak Puranya ada di kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Dan akhirnya kami sampai di Pura Giri Salaka tepat pukul 12.00 WIB. Pura Giri Salaka ini hampir sama dengan Pura Pulaki di Singaraja karena ada monyetnya sehingga tempat sesaji seperti dalam bentuk kandang supaya sesaji tidak di ambil oleh monyet.

Pura Semeru Malam Hari Foto Pribadi
Setelah selesai persembahyangan di Pura Giri Salaka kami melanjutkan perjalanan ke Pura Semeru melewati gunung gumitir, di sepanjang jalan saya banyak melihat orang-orang tua di pinggir jalan sambil melambaikan tangan entah apa maksudnya saya tidak tahu, di jalur menuju lumajang tepatnya jalan Basuki Rahmat Jember hujan deras mengguyur sampai di mana saya lupa karena jalur yang ditempuh tidak jalur utama sehingga kami seperti tersesat dan banyak bertanya kepada warga dan pada akhirnya kami kembali ke jalur normal. Pukul 20.00 WIB sampai di Pura Agung Semeru cuaca hujan sembahyang jadi kurang kusuk, setelah selesai sembahyang, cari makan malam habis itu pukul 21.00 WIB langsung lanjut ke Bromo. Sebelum sampai di Bromo kami sempat bingung untuk mencari arah menuju Senduro, sampai pernah tersesat lewat dari 18 KM, setealh bertanya-tanya kepada warga di jalan akhirnya kita sampai di Bromo pukul 24.00 WIB, jalan yang berkelok-kelok dan kecil, untung tidak ada kabut, setelah sampai di Bromo langsung nyari penginapan yang tarifnya bervariasi mulai Rp. 180.000 sampai Rp. 500.000 per malam, dan langsung ngecas BB dan Kamera yang baterainya sudah habis dari tadi siang sekarang tidur dulu, besok mau ke puncak! Besok baru bangun pagi, baru tahu paginya ternyata listrik mati dari jam 2 pagi sampai jam 8, pada akhirnya Hape dan kamera tidak terisi daya, maka jadilah pemakaian kamera dan BB jadi terbatas, ternyata usut demi usut memang seperti itu setiap jam 2 atau jam 3 pagi listrik mati.

Seruni Point Bromo di Pagi hari. Foto Pribadi
Pada tanggal 25 Februari 2013 Dengan perasaan kecewa saya pun bangun sekitar jam 3 WIB untuk siap-siap mendaki Bromo karena berangkat di mulai jam 4 pagi dengan naik kendaraan Hard top, sewa hard top ini lumayan sekitar Rp. 350.000 hanya untuk mengantar menuju puncak melihat sunrise dan menuju padang pasir untuk melihat kawah Bromo dan sisanya dilakukan pendakian, jika tidak kuat berjalan atau mendaki maka disana ada juga kuda yang disewakan, tarifnya bervariasi pintar-pintar kita nego saja, pertama yang harus disiapkan sebelum mendaki adalah: Pakaian tebal, Syal, Topi, Sepatu penutup mulut, senter, sarapan dulu, bawa air minum dan lain-lain, karena cuaca sangat ekstrim angin kencang, pasir berterbangan dan suhu yang sangat dingin, kebetulan saya ke sini pas musim hujan jadi pasirnya agak padat dan mudah di lewati, tetapi kabutnya tebal jadi susah lihat sunrise. Karena tujuan utama kami kesana untuk sembahyang maka, sebelum menuju puncak melihat kawah Bromo maka kami sembahyang di Pura Poten Bromo yang letaknya di tengah-tengah padang pasir Bromo, Pura ini di Usung oleh penduduk asli Bromo yaitu suku Tengger yang beragama Hindu, sebelum sembahyang kami harus menghubungi Pemangku disana, karena tanpa seizin Pemangku, kami tidak bisa masuk karena pintunya di kunci dan Pemangkulah yang membawa kuncinya. Setelah selesai sembahyang kami melanjutkan perjalanan menuju puncak untuk melihat Kawah Bromo, karena angin kencang dan kabut tebal kami tidak dapat melihat kawah Bromo dan tidak berani lama-lama diam di puncak, kurang dari 10 menit akhirnya kami memutuskan untuk turun dan kembali ke hotel.

Pura Poten Bromo. Foto Pribadi
Dengan naik hard top tadi kami pun tiba di hotel, setelah itu kami mandi (sebenarnya tidak mandi cuma cuci muka sama gosok gigi saja, karena airnya yang sangat dingin) dan sarapan di Hotel setelah itu kami langsung balik menuju Bali lewat jalur Pantura disana melewati Taman Nasional Baluran yang luas banget, karena BB dan kamera mati jadi tidak bisa berfoto-foto, sampai ketapang terus langsung menyeberang menuju Gilimanuk setelah itu melanjutkan perjalanan menuju Denpasar kurang lebih lagi 3 Jam, dan akhirnya kami sampai di Denpasar Pukul 21.30 Wita, sungguh perjalanan yang menyenangkan da melelahkan, meskipun sedikit kurang persiapan, tetapi kami sungguh menikmati perjalanan ini, semoga bagi rekan-rekan yang membaca tulisan ini, bisa jadi referensi jika mau mendaki ke Bromo, mungkin hanya sekian yang bisa saya ceritakan semoga bermanfaat dan saya ucapkan terimakasih. Mau lihat Banyak Foto, silahkan kunjungi LINK INI.

Advertisement
BERITA TERKAIT :

2 Responses to "Tirta Yatra ke Pura di Jawa, Blambangan, Alas Purwo, Semeru dan Gunung Bromo"

  1. saya pernah berwisata 2 x ke bromo sebenernya bli bisa datang tanpa harus di otel kami pernah membawa teman teman 1 bus semua di terima oleh masyarakat sana dan kami di sambut sangat ramah,makan di sana dan para tokoh bali disana kami me siwekrame,sembahyang di pura desa,,sebelum kami berangkat kami sudah mengkontek juru gunci pura jai astungkare semua berjalan lancar ,dan selalu uaca langit cerah ...agus tus 2014 nanti kami akan berangkat lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waktu itu kami seperti mendadak rencana kesana.. jadi tidak tahu harus persiapkan apa saja, tapi masih berjalan lancar...

      Hapus

Silakan berkomentar dengan bahasa yang baik dan benar supaya mudah dimengerti oleh pembaca lainnya, Jangan ada SPAM, Link dan akan di Hapus oleh admin, terima kasih