Desa Wisata Tradisional Penglipuran di Bangli

Advertisement
Advertisement
Baru kemarin malam saya berkhayal yang saya tulis disini, untuk bisa melihat langsung desa wisata tradisional penglipuran, untuk kali ini akhirnya bisa terwujud, di hari minggu yang cerah ini sekitar jam 11 saya berangkat sendiri dengan sepeda motor dan di bantu penunjuk arah atau navigator yang ada pada perangkat android akhirnya saya bisa menemukan desa penglipuran ini dengan cepat dan akurat, meskipun sempat salah jalur sedikit, pada akhirnya bisa kembali jalur yang benar lagi-lagi lewat bantuan navigator atau GPS ini.

Desa Wisata Tradisional Penglipuran di Bangli

Banyak sebenarnya yang bisa di ceritakan dari desa penglipuran ini, di mulai dari masuk menuju kawasan desa penglipuran, suasananya sejuk, jalannya bersih? Rumputnya rapi dan di sisi kiri kanan jalan ada pot yang berisi bunga kembang kertas, setelah itu masuk kawasan desa wisata anda mungkin harus membayar, tetapi kali ini saya hanya nyelonong tanpa ada petugas yang menghentikan saya dan akhirnya saya masuk gratis dengan leluasa dan langsung parkir sepeda motor di areal parkir yang cukup luas untuk sepeda motor dan mobil.

Ibu ini sedang nenata rumput yang ada di depan rumahnya
Setelah itu saya langsung berjalan kaki menuju pemukiman warga di desa ini, tak lupa keluarkan kamera jadul untuk mengambil beberapa foto, mungkin pada umumnya orang-orang yang datang ke penglipuran akan mengambil foto dari bagian ujung bawah atau paling atas dari pura untuk mengambil foto supaya terlihat bagus. Tetapi ada hal lain yang saya perhatikan dari desa ini, yang pertama adalah adanya warga disana yang menjual jamu tradisional Bali warnanya hijau entah jamu yag terbuat dari daun apa, saya lupa menanyakannya.

Bagi pria yang berpoligamai akan di hukum dan tinggal disini, di bawahnya ada keran air untuk mencuci kaki atau muka saat setelah datang dari kuburan

Ada sekitar 70 angkul-angkul seperti ini
Yang kedua adalah adanya plang atau papan yang bertuliskan Karang Memadu, saya sempat bertanya kepada anak perempuan disana dia masih ABG, itu maksudnya adalah karena di desa ini seorang pria tidak boleh memiliki istri lebih dari satu atau poligami, jika itu di larang maka mereka entah siapa istri atau suami atau semuanya tinggal di pekarangan tersebut sebagai hukuman. Terus yang ketiga adalah dekat papan tadi ada tiga buah keran air, katanya itu berfungsi untuk pembersihan atau sekedar cuci kaki atau muka ketika datang dari kuburan saat setelah mengantar atau mengubur orang mati. Cuma itu informasi yang saya dapatkan mungkin kali ini ceritanya itu saja, semoga bermanfaat dan saya ucapkan terimakasih.

Penglipuran
Advertisement
BERITA TERKAIT :

0 Response to "Desa Wisata Tradisional Penglipuran di Bangli"

Posting Komentar

Silakan berkomentar dengan bahasa yang baik dan benar supaya mudah dimengerti oleh pembaca lainnya, Jangan ada SPAM, Link dan akan di Hapus oleh admin, terima kasih